Posted on March 9th, 2012 at 10:36 PM by Dian Degeng

The Roles of Visuals in Instruction

Salah satu peranan visual dalam pembelajaran adalah
sebagai sarana untuk menyediakan atau memberikan referensi yang konkret tentang
sebuah ide. Kata-kata tidak dapat mewakili atau menyuarakan benda karena visual
bersifat iconic. Oleh karena itu,
setiap kata memiliki kesamaan dengan benda yang dirujuk. Beberapa manfaat
visual dalam pembelajaran antara lain, visual dapat memotivasi pebelajar dengan
cara menarik perhatian mereka, mempertahankan perhatian serta mendapatkan
respon-respon emosional. Selain itu, visual juga dapat menyederhanakan
informasi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Dengan kata lain,
peranan visual dalam pembelajaran termasuk penting untuk mendukung informasi
tertulis dan informasi lisan (verbal information).

 

Visual Literacy

Visual Literacy adalah kemampuan pebelajar untuk
menganalisis sebuah pesan visual dalam pembelajaran. Visual Literacy dapat dikembangkan melalui dua macam pendekatan:

  • Input
    strategies. Membantu pebelajar untuk decode atau “membaca” dengan cara
    mempraktekkan kemampuan analisis visual.
  • Output
    strategies. Membantu pebelajar untuk encode, atau “menulis” secara visual untuk
    mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang lain.

Decoding: Interpretasi Visual

Dengan melihat
sebuah tampilan visual tidak berarti bahwa seorang pebelajar dapat belajar dari
tampilan tersebut. Pebelajar harus dibimbing untuk dapat memiliki pemikiran
yang jelas dan benar tentang tampilan visual tersebut. Aspek visual literacy yang pertama adalah
kemampuan untuk menginterpretasi dan menemukan makna dari stimulus yang ada di
lingkungan sekitar.

 

Developmental Effects

Banyak variable yang mempengaruhi seorang pebelajar dalam memaknai
sebuah tampilan visual. Anak-anak sampai pada usia 12 tahun cenderung memaknai
tampilan visual secara parsial. Disisi lain, anak yang lebih dewasa cenderung
mampu untuk menggambarkan kembali pesan yang ingin disampaikan dari sebuah
tampilan visual. Gambar-gambar abstrak atau rangkaian gambar diam (still pictures) kurang sesuai untuk
anak-anak (sampai usia 12 tahun).

 

Cultural Effects

Dalam mengajar, harus disadari bahwa
kemampuan pebelajar untuk menginterpretasi sebuah tampilan visual dapat
dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaannya. Misalnya, seorang pebelajar yang
berasal dari keluarga sederhana akan memiliki pemahaman yang berbeda mengenai
suatu tampilan visual dengan pebelajar yang berasal dari keluarga menengah
atas.

 

Visual Preferences

Dalam memilih tampilan visual, guru
sebaiknya memilih tampilan visual yang paling efektif daripada memilih tampilan
visual yang disukai. Misalnya, pembelajaran untuk anak-anak lebih cocok
menggunakan tampilan visual yang sederhana dan tidak menggunakan banyak
ilustrasi. Di sisi lain, tampilan visual pembelajaran untuk anak-anak yang
lebih dewasa lebih cocok menggunakan ilustrasi-ilustrasi yang lebih kompleks.

Kebanyakan pebelajar lebih menyukai
tampilan visual yang berwarna daripada tampilan visual hitam-putih. Sebenarnya
tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua hal tersebut kecuali ketika
ada hubungan antara topik yang sedang dipelajari dengan eksistensi warna.
Selain warna, pebelajar lebih suka tampilan visual dengan menggunakan foto
daripada line drawings (sekalipun
dalam beberapa situasi, line drawings
lebih sesuai digunakan dalam pembelajaran). Pada dasarnya, tampilan visual yang
sederhana akan lebih efektif bila digunakan dalam pembelajaran.

Perbedaan latar belakang
mempengaruhi kemampuan setiap pebelajar dalam
menginterpretasikan sebuah tampilan visual. Seorang guru dapat membantu mengembangkan
kemampuan visual pebelajar membiarkan mereka untuk “menggunakannya”, misalnya,
setiap pebelajar dapat belajar dengan melihat dan menganalisa tampilan visual.

Encoding: Menciptakan Visual

Aspek visual literacy yang kedua adalah kemampuan pebelajar untuk
menciptakan sebuah tampilan visual. Sama halnya dengan menulis yang dapat
menjadi stimuli untuk membaca, memproduksi media juga dapat menjadi cara yang
efektif untuk mengerti tentang media.

 

Goals of Visual Design

Setidaknya ada empat tujuan dasar desain visual yaitu:

  1. Ensure Legibility

Sebuah
tampilan visual tidak akan dapat berfungsi sampai tampilan itu dapat terbaca
oleh setiap orang yang melihatnya. Keterbacaan (legibility) berhubungan dengan
kualitas huruf pada tampilan dalam tingkat kemudahannya untuk dibaca. Tujuan
akhir dari sebuah tampilan desain visual yang baik adalah untuk menyingkirkan
sebanyak mungkin halangan yang mengganggu penyampaian sebuah pesan
pembelajaran.

 

  1. Reduce Effort

Seorang
desainer pasti merindukan agar pesan yang disampaikan melalui sebuah tampilan
dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu ia akan berusaha untuk
meminimalisir usaha-usaha yang mungkin dibutuhkan oleh setiap orang untuk
menangkap isi pesan tampilan visual tersebut.

 

  1. Increase Active Engagement

Sebuah
pesan tidak akan dapat bertahan sampai pesan itu mendapat perhatian. Hal inilah
yang menjadi dasar dari salah satu tujuan desain visual. Sebuah desain
sebaiknya dibuat semenarik mungkin untuk menarik perhatian viewer dan untuk membuat mereka memikirkan  tentang pesan yang sedang disampaikan.

 

  1. Focus Attention

Setelah
mendapatkan perhatian viewer, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengarahkan
perhatian mereka pada bagian terpenting dari tampilan pesan visual yang
telah  dibuat.

 

Processes of
Visual Design

Elements:

Langkah pertama
dalam mendesain sebuah tampilan visual adalah dengan mengumpulkan atau membuat
ilustrasi gambar dan desain teks yang akan digunakan.

Visual Elements

Tiga kategori simbol visual: (1) Realistic visuals menggambarkan objek
secara aktual atau sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebuah objek atau
peristiwa aktual akan selalu memiliki aspek yang tidak dapat diilustrasikan
sekalipun dalam gambar tiga dimensi.  (2)
Analogic visuals menggambarkan sebuah
konsep atau topik dengan menggunakan benda lain yang memiliki kemiripan.  (3) Organizational
visuals
meliputi: diagram, peta, skema, dll. Grafik seperti ini menunjukkan
hubungan antara poin-poin utama atau konsep dalam materi.

 

Verbal Elements

Huruf adalah bagian
terkecil dari sebuah kata. Sedangkan kata adalah bagian terkecil dari sebuah
gagasan. Sebuah gagasan yang baik dan telah tersusun lewat pemilihan kata yang
menarik bisa saja berakhir sia-sia karena kegagalan dalam memilih huruf.

 

Letter Style

  • Jenis huruf yang dipilih sebaiknya konsisten dan
    harmonis dengan elemen lain yang  ada
    dalam sebuah desain visual. Untuk keperluan desain pesan pembelajaran, jenis
    huruf yang sederhana lebih diutamakan. Misalnya huruf-huruf jenis Serif atau
    Sanserif.

 

Number of Lettering Style

  • Sebuah tampilan visual atau rangkaian tampilan visual
    sebaiknya tidak menggunakan lebih dari dua jenis huruf  dan kedua jenis huruf ini harus sesuai satu
    dengan yang lain.

 

 

 

Capitals

  • Untuk mendapatkan hasil tampilan yang legibel, maka
    gunakanlah huruf kecil. Huruf kapital lebih baik dipergunakan hanya pada
    saat-saat tertentu saja.

 

Color of Lettering

  • Warna huruf yang dipakai sebaiknya kontras dengan
    warna latar belakang (background). Hal ini perlu untuk memudahkan viewer dalam melihat hasil sebuah
    tayangan visual.

 

Size of Lettering

  • Bodytext antara 9 pt – 14 pt
  • Headline > 14 pt

 

Spacing Between Letters

  • Jarak antara huruf yang satu dengan yang lainnya
    sebaiknya tidak terlalu lebar. Perlu diperhatikan jenis huruf.

 

Spacing Between Lines

  • Jarak vertikal antara tiap baris sangat penting untuk
    legibilitas. Apabila jarak antar baris terlalu dekat, akan menyebabkan tulisan
    menjadi kabur dan tak terbaca; tetapi apabila jarak antar baris terlalu jauh,
    tulisan dalam tayangan akan terlihat kurang menyatu.

Elements That Add Appeal

Sebuah tampilan visual akan menjadi
berarti apabila  dapat menarik perhatian viewer.

 

Surprise

Hal mendasar yang
dapat menarik perhatian seseorang adalah karena adanya sesuatu yang tidak
terduga. Hal yang tidak terduga ini dapat berupa penggunaan metafora yang lain
dari biasanya, penggunaan permainan warna yang lebih berani, dll.

 

Texture

Kebanyakan tampilan
visual adalah dua dimensi. Namun, seorang desainer dapat membuat tampilan itu
menjadi tampilan tiga dimensi dengan cara memberikan tekstur atau material yang
bersifat aktual. Tekstur adalah karakter tiga dimensi objek atau material.

 

Interaction

Viewer dapat diminta untuk
memberikan respon terhadap sebuah tampilan visual dengan cara memanipulasi
materi yang ada dalam tayangan tersebut.

Pattern:

Alignment

  • Penataan baris rata kiri
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang baik
  • Dianjurkan untuk naskah yang panjang
  • Terkesan
    dinamis tetapi kurang rapi

 

  • Penataan baris rata kanan
    • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
    • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
    • Terkesan dinamis

 

  • Penataan baris rata kiri-kanan
    • Memiliki tingkat keterbacaan yang cukup baik terutama
      jika jarak antar kata tetap terkontrol dengan baik
    • Terkesan rapi tetapi kurang dinamis
    • Dengan kontrol yang baik, dianjurkan untuk naskah
      panjang
    • Penataan baris terpusat di tengah
    • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
    • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
    • Terkesan statis

 

Shape

Cara selanjutnya untuk membuat  elemen visual dan elemen verbal adalah dengan
cara memilih dan meletakkannya dalam bentuk yang telah familiar. Bentuk-bentuk
seperti bentuk geometri adalah bentuk yang sesuai karena mudah ditebak oleh viewer. Prinsip lain yang dapat
digunakan sebagai panduan untuk penempatan elemen visual adalah hukum yang
ketiga yaitu elemen diletakkan pada jarak sepertiga dari bagian pojok kiri atas
sebuah tampilan.

 

Balance

Ukuran nada, berat
dan posisi unsur-unsur dalam sebuah rancangan tampilan dikendalikan dengan
sebuah keseimbangan. Unsur-unsur yang tertata seimbang terlihat aman dan nyaman
oleh mata. Cara menguji keseimbangan adalah dengan cara menguji hubungan bagian
kiri dan kanan. Pada dasarnya, terdapat dua bentuk keseimbangan yaitu formal
dan informal.

  • Keseimbangan formal

Rancangan yang seimbang formal memiliki unsur-unsur
berat, ukuran, bentuk yang sama pada sisi kanan dan sisi kiri dalam suatu garis
vertical imajiner yang digambarkan di pusat tampilan. Rancangan yang simetris
memberikan kesan stabilitas dan konservatif, tetapi pada suatu saat terlihat
tidak imajinatif.

 

Gambar kupu-kupu di samping simetris. Kedua sisi
memiliki kesamaa dan kekuatan yang seimbang secara visual. Selain itu gambar
kupu-kupu tercermin kembali.

 

 

 

  • Keseimbangan informal

Dalam keseimbangan informal, objek ditempatkan secara
acak dalam halaman tetapi secara keseluruhan tampak seimbang. Bentuk penyusunan
ini memerlukan pemikiran daripada keseimbangan formal bersimetris sederhana,
tetapi efeknya dapat imajinatif dan dinamis.

 

Gambar
kupu-kupu di atas asimteris. Kedua sisi memiliki  kekuatan visual yang hampir sama tetapi
gambar kupu-kupu tersebut tidak tercermin kembali.

 

Style

Style
ditentukan oleh perbedaan kondisi yang ada di lapangan. Tampilan rancangan
yang ditujukan untuk pembelajaran anak-anak akan memiliki tampilan rancangan
yang berbeda dengan desain pembelajaran yang ditujukan untuk pebelajar dewasa.

 

Color Scheme

Warna merupakan unsur visual yang
penting dan merupakan gejala penglihatan yang paling menarik. Warna  dapat berperan sebagai berikut:

  • Memberikan kesan realistik
  • Berfungsi sebagai pemisah antara elemen visual yang
    satu dengan yang lain
  • Membangkitkan perhatian
  • Memiliki bahasa psikologis untuk menguatkan mood pesan
  • Meningkatkan tampilan artistik

Berikut
ini adalah saran kombinasi warna untuk background
dan foreground (Color in
Instructional Communication):

Background ForegroundImages & Text Highlights
WhiteLight grey

Blue

Light blue

Light yellow

Dark blueBlue, green, black

Light yellow, white

Dark blue, dark green

Violet, brown

Red, orangeRed

Yellow, red

Red-orange

Red

 

Color Appeal

Warna-warna seperti biru, hijau dan
ungu termasuk warna-warna dingin; sedangkan merah dan oranye tergolong warna
yang hangat. Ketika memilih warna, seorang desainer perlu memperhatikan situasi
emosional apa yang ingin didapatkan melalui sebuah tampilan.

 

Arrangement:

Proximity

Prinsip proximity adalah pengelompokkan elemen.
Elemen yang saling berhubungan diletakkan saling berdekatan, sedangkan elemen
yang tidak berhubungan sedapat mungkin dijauhkan sehingga viewer dapat dengan
mudah menangkap makna sebuah tayangan.

 

Directionals

Viewer melihat sebuah tampilan dengan mengarahkan
perhatiannya ke tiap bagian tampilan secara bergantian. Seorang desainer dapat
mengatur perhatian viewer dengan cara memberikan arahan dalam tampilan dan
inilah yang disebut dengan directionals.  Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menarik perhatian viewer. Misalnya dengan menggunakan tanda panah, menggunakan
huruf bold, menggunakan bullets, dsb. Selain tiga contoh
sebelumnya, elemen warna juga dapat digunakan untuk menarik perhatian.
Warna-warna yang berani akan menarik perhatian dengan cepat apabila
dikombinasikan dengan warna-warna gelap.

 

Figure-Ground Contrast

Figure-ground
contrast
adalah upaya untuk membuat penonjolan sebuah unsur atau kelompok
unsur melalui berbagai cara: kontras nada, kontras arah, kontras ukuran,
kontras bentuk. Prinsip sederhana untuk figure-ground
contrast
adalah figur berwarna terang lebih cocok menggunakan background berwana gelap. Sebaliknya,
figure berwarna gelap lebih cocok menggunakan background berwarna terang.

 

Consistency

Dalam proses pembuatan sebuah
rangkaian tampilan visual, konsistensi adalah sebuah prinsip dasar yang tidak
boleh dilupakan. Hal ini bertujuan untuk tidak membingungkan viewer.

Visual
Planning Tools

Storyboard

Storyboarding adalah sebuah
metode perencanaan. Ketika mendesain sekelompok tampilan visual, misalnya
sebuah slide set atau video, maka diperlukan sebuah metode bagaimana cara
menyusun dan menyusun kembali keseluruhan sekuens dalam sebuah rangkaian
visual.

Types of Letters

Pemilihan jenis tulisan yang akan
digunakan dalam sebuah tampilan visual perlu disesuaikan dengan pesan apa yang
ingin disampaikan oleh desainer.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Heinich, Robert & Molenda. 1996. Instructional Media and Technologies for Learning (7th Edition). New Jersey.

Some Design Principles and Rules, (Online), (http://www.goshen.edu/art/ed/Compose.htm#elements, diakses 14 maret
2008).

Wirakusumah, Teddy. 2006. Komunikasi Visual, (Online), (http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing/, diakses 26 February 2008)

 

 

 

The Roles of Visuals in Instruction

Salah satu peranan visual dalam pembelajaran adalah
sebagai sarana untuk menyediakan atau memberikan referensi yang konkret tentang
sebuah ide. Kata-kata tidak dapat mewakili atau menyuarakan benda karena visual
bersifat iconic. Oleh karena itu,
setiap kata memiliki kesamaan dengan benda yang dirujuk. Beberapa manfaat
visual dalam pembelajaran antara lain, visual dapat memotivasi pebelajar dengan
cara menarik perhatian mereka, mempertahankan perhatian serta mendapatkan
respon-respon emosional. Selain itu, visual juga dapat menyederhanakan
informasi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Dengan kata lain,
peranan visual dalam pembelajaran termasuk penting untuk mendukung informasi
tertulis dan informasi lisan (verbal information).

 

Visual Literacy

Visual Literacy adalah kemampuan pebelajar untuk
menganalisis sebuah pesan visual dalam pembelajaran. Visual Literacy dapat dikembangkan melalui dua macam pendekatan:

  • Input
    strategies. Membantu pebelajar untuk decode atau “membaca” dengan cara
    mempraktekkan kemampuan analisis visual.
  • Output
    strategies. Membantu pebelajar untuk encode, atau “menulis” secara visual untuk
    mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang lain.

Decoding: Interpretasi Visual

Dengan melihat
sebuah tampilan visual tidak berarti bahwa seorang pebelajar dapat belajar dari
tampilan tersebut. Pebelajar harus dibimbing untuk dapat memiliki pemikiran
yang jelas dan benar tentang tampilan visual tersebut. Aspek visual literacy yang pertama adalah
kemampuan untuk menginterpretasi dan menemukan makna dari stimulus yang ada di
lingkungan sekitar.

 

Developmental Effects

Banyak variable yang mempengaruhi seorang pebelajar dalam memaknai
sebuah tampilan visual. Anak-anak sampai pada usia 12 tahun cenderung memaknai
tampilan visual secara parsial. Disisi lain, anak yang lebih dewasa cenderung
mampu untuk menggambarkan kembali pesan yang ingin disampaikan dari sebuah
tampilan visual. Gambar-gambar abstrak atau rangkaian gambar diam (still pictures) kurang sesuai untuk
anak-anak (sampai usia 12 tahun).

 

Cultural Effects

Dalam mengajar, harus disadari bahwa
kemampuan pebelajar untuk menginterpretasi sebuah tampilan visual dapat
dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaannya. Misalnya, seorang pebelajar yang
berasal dari keluarga sederhana akan memiliki pemahaman yang berbeda mengenai
suatu tampilan visual dengan pebelajar yang berasal dari keluarga menengah
atas.

 

Visual Preferences

Dalam memilih tampilan visual, guru
sebaiknya memilih tampilan visual yang paling efektif daripada memilih tampilan
visual yang disukai. Misalnya, pembelajaran untuk anak-anak lebih cocok
menggunakan tampilan visual yang sederhana dan tidak menggunakan banyak
ilustrasi. Di sisi lain, tampilan visual pembelajaran untuk anak-anak yang
lebih dewasa lebih cocok menggunakan ilustrasi-ilustrasi yang lebih kompleks.

Kebanyakan pebelajar lebih menyukai
tampilan visual yang berwarna daripada tampilan visual hitam-putih. Sebenarnya
tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua hal tersebut kecuali ketika
ada hubungan antara topik yang sedang dipelajari dengan eksistensi warna.
Selain warna, pebelajar lebih suka tampilan visual dengan menggunakan foto
daripada line drawings (sekalipun
dalam beberapa situasi, line drawings
lebih sesuai digunakan dalam pembelajaran). Pada dasarnya, tampilan visual yang
sederhana akan lebih efektif bila digunakan dalam pembelajaran.

Perbedaan latar belakang
mempengaruhi kemampuan setiap pebelajar dalam
menginterpretasikan sebuah tampilan visual. Seorang guru dapat membantu mengembangkan
kemampuan visual pebelajar membiarkan mereka untuk “menggunakannya”, misalnya,
setiap pebelajar dapat belajar dengan melihat dan menganalisa tampilan visual.

Encoding: Menciptakan Visual

Aspek visual literacy yang kedua adalah kemampuan pebelajar untuk
menciptakan sebuah tampilan visual. Sama halnya dengan menulis yang dapat
menjadi stimuli untuk membaca, memproduksi media juga dapat menjadi cara yang
efektif untuk mengerti tentang media.

 

Goals of Visual Design

Setidaknya ada empat tujuan dasar desain visual yaitu:

  1. Ensure Legibility

Sebuah
tampilan visual tidak akan dapat berfungsi sampai tampilan itu dapat terbaca
oleh setiap orang yang melihatnya. Keterbacaan (legibility) berhubungan dengan
kualitas huruf pada tampilan dalam tingkat kemudahannya untuk dibaca. Tujuan
akhir dari sebuah tampilan desain visual yang baik adalah untuk menyingkirkan
sebanyak mungkin halangan yang mengganggu penyampaian sebuah pesan
pembelajaran.

 

  1. Reduce Effort

Seorang
desainer pasti merindukan agar pesan yang disampaikan melalui sebuah tampilan
dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu ia akan berusaha untuk
meminimalisir usaha-usaha yang mungkin dibutuhkan oleh setiap orang untuk
menangkap isi pesan tampilan visual tersebut.

 

  1. Increase Active Engagement

Sebuah
pesan tidak akan dapat bertahan sampai pesan itu mendapat perhatian. Hal inilah
yang menjadi dasar dari salah satu tujuan desain visual. Sebuah desain
sebaiknya dibuat semenarik mungkin untuk menarik perhatian viewer dan untuk membuat mereka memikirkan  tentang pesan yang sedang disampaikan.

 

  1. Focus Attention

Setelah
mendapatkan perhatian viewer, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengarahkan
perhatian mereka pada bagian terpenting dari tampilan pesan visual yang
telah  dibuat.

 

Processes of
Visual Design

Elements:

Langkah pertama
dalam mendesain sebuah tampilan visual adalah dengan mengumpulkan atau membuat
ilustrasi gambar dan desain teks yang akan digunakan.

Visual Elements

Tiga kategori simbol visual: (1) Realistic visuals menggambarkan objek
secara aktual atau sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebuah objek atau
peristiwa aktual akan selalu memiliki aspek yang tidak dapat diilustrasikan
sekalipun dalam gambar tiga dimensi.  (2)
Analogic visuals menggambarkan sebuah
konsep atau topik dengan menggunakan benda lain yang memiliki kemiripan.  (3) Organizational
visuals
meliputi: diagram, peta, skema, dll. Grafik seperti ini menunjukkan
hubungan antara poin-poin utama atau konsep dalam materi.

 

Verbal Elements

Huruf adalah bagian
terkecil dari sebuah kata. Sedangkan kata adalah bagian terkecil dari sebuah
gagasan. Sebuah gagasan yang baik dan telah tersusun lewat pemilihan kata yang
menarik bisa saja berakhir sia-sia karena kegagalan dalam memilih huruf.

 

Letter Style

  • Jenis huruf yang dipilih sebaiknya konsisten dan
    harmonis dengan elemen lain yang  ada
    dalam sebuah desain visual. Untuk keperluan desain pesan pembelajaran, jenis
    huruf yang sederhana lebih diutamakan. Misalnya huruf-huruf jenis Serif atau
    Sanserif.

 

Number of Lettering Style

  • Sebuah tampilan visual atau rangkaian tampilan visual
    sebaiknya tidak menggunakan lebih dari dua jenis huruf  dan kedua jenis huruf ini harus sesuai satu
    dengan yang lain.

 

 

 

Capitals

  • Untuk mendapatkan hasil tampilan yang legibel, maka
    gunakanlah huruf kecil. Huruf kapital lebih baik dipergunakan hanya pada
    saat-saat tertentu saja.

 

Color of Lettering

  • Warna huruf yang dipakai sebaiknya kontras dengan
    warna latar belakang (background). Hal ini perlu untuk memudahkan viewer dalam melihat hasil sebuah
    tayangan visual.

 

Size of Lettering

  • Bodytext antara 9 pt – 14 pt
  • Headline > 14 pt

 

Spacing Between Letters

  • Jarak antara huruf yang satu dengan yang lainnya
    sebaiknya tidak terlalu lebar. Perlu diperhatikan jenis huruf.

 

Spacing Between Lines

  • Jarak vertikal antara tiap baris sangat penting untuk
    legibilitas. Apabila jarak antar baris terlalu dekat, akan menyebabkan tulisan
    menjadi kabur dan tak terbaca; tetapi apabila jarak antar baris terlalu jauh,
    tulisan dalam tayangan akan terlihat kurang menyatu.

Elements That Add Appeal

Sebuah tampilan visual akan menjadi
berarti apabila  dapat menarik perhatian viewer.

 

Surprise

Hal mendasar yang
dapat menarik perhatian seseorang adalah karena adanya sesuatu yang tidak
terduga. Hal yang tidak terduga ini dapat berupa penggunaan metafora yang lain
dari biasanya, penggunaan permainan warna yang lebih berani, dll.

 

Texture

Kebanyakan tampilan
visual adalah dua dimensi. Namun, seorang desainer dapat membuat tampilan itu
menjadi tampilan tiga dimensi dengan cara memberikan tekstur atau material yang
bersifat aktual. Tekstur adalah karakter tiga dimensi objek atau material.

 

Interaction

Viewer dapat diminta untuk
memberikan respon terhadap sebuah tampilan visual dengan cara memanipulasi
materi yang ada dalam tayangan tersebut.

Pattern:

Alignment

  • Penataan baris rata kiri
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang baik
  • Dianjurkan untuk naskah yang panjang
  • Terkesan
    dinamis tetapi kurang rapi

 

  • Penataan baris rata kanan
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
  • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
  • Terkesan dinamis

 

  • Penataan baris rata kiri-kanan
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang cukup baik terutama
    jika jarak antar kata tetap terkontrol dengan baik
  • Terkesan rapi tetapi kurang dinamis
  • Dengan kontrol yang baik, dianjurkan untuk naskah
    panjang
  • Penataan baris terpusat di tengah
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
  • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
  • Terkesan statis

 

Shape

Cara selanjutnya untuk membuat  elemen visual dan elemen verbal adalah dengan
cara memilih dan meletakkannya dalam bentuk yang telah familiar. Bentuk-bentuk
seperti bentuk geometri adalah bentuk yang sesuai karena mudah ditebak oleh viewer. Prinsip lain yang dapat
digunakan sebagai panduan untuk penempatan elemen visual adalah hukum yang
ketiga yaitu elemen diletakkan pada jarak sepertiga dari bagian pojok kiri atas
sebuah tampilan.

 

Balance

Ukuran nada, berat
dan posisi unsur-unsur dalam sebuah rancangan tampilan dikendalikan dengan
sebuah keseimbangan. Unsur-unsur yang tertata seimbang terlihat aman dan nyaman
oleh mata. Cara menguji keseimbangan adalah dengan cara menguji hubungan bagian
kiri dan kanan. Pada dasarnya, terdapat dua bentuk keseimbangan yaitu formal
dan informal.

  • Keseimbangan formal

Rancangan yang seimbang formal memiliki unsur-unsur
berat, ukuran, bentuk yang sama pada sisi kanan dan sisi kiri dalam suatu garis
vertical imajiner yang digambarkan di pusat tampilan. Rancangan yang simetris
memberikan kesan stabilitas dan konservatif, tetapi pada suatu saat terlihat
tidak imajinatif.

 

Gambar kupu-kupu di samping simetris. Kedua sisi
memiliki kesamaa dan kekuatan yang seimbang secara visual. Selain itu gambar
kupu-kupu tercermin kembali.

 

 

 

  • Keseimbangan informal

Dalam keseimbangan informal, objek ditempatkan secara
acak dalam halaman tetapi secara keseluruhan tampak seimbang. Bentuk penyusunan
ini memerlukan pemikiran daripada keseimbangan formal bersimetris sederhana,
tetapi efeknya dapat imajinatif dan dinamis.

 

Gambar
kupu-kupu di atas asimteris. Kedua sisi memiliki  kekuatan visual yang hampir sama tetapi
gambar kupu-kupu tersebut tidak tercermin kembali.

 

Style

Style
ditentukan oleh perbedaan kondisi yang ada di lapangan. Tampilan rancangan
yang ditujukan untuk pembelajaran anak-anak akan memiliki tampilan rancangan
yang berbeda dengan desain pembelajaran yang ditujukan untuk pebelajar dewasa.

 

Color Scheme

Warna merupakan unsur visual yang
penting dan merupakan gejala penglihatan yang paling menarik. Warna  dapat berperan sebagai berikut:

  • Memberikan kesan realistik
  • Berfungsi sebagai pemisah antara elemen visual yang
    satu dengan yang lain
  • Membangkitkan perhatian
  • Memiliki bahasa psikologis untuk menguatkan mood pesan
  • Meningkatkan tampilan artistik

Berikut
ini adalah saran kombinasi warna untuk background
dan foreground (Color in
Instructional Communication):

Background ForegroundImages & Text Highlights
WhiteLight grey

Blue

Light blue

Light yellow

Dark blueBlue, green, black

Light yellow, white

Dark blue, dark green

Violet, brown

Red, orangeRed

Yellow, red

Red-orange

Red

 

Color Appeal

Warna-warna seperti biru, hijau dan
ungu termasuk warna-warna dingin; sedangkan merah dan oranye tergolong warna
yang hangat. Ketika memilih warna, seorang desainer perlu memperhatikan situasi
emosional apa yang ingin didapatkan melalui sebuah tampilan.

 

Arrangement:

Proximity

Prinsip proximity adalah pengelompokkan elemen.
Elemen yang saling berhubungan diletakkan saling berdekatan, sedangkan elemen
yang tidak berhubungan sedapat mungkin dijauhkan sehingga viewer dapat dengan
mudah menangkap makna sebuah tayangan.

 

Directionals

Viewer melihat sebuah tampilan dengan mengarahkan
perhatiannya ke tiap bagian tampilan secara bergantian. Seorang desainer dapat
mengatur perhatian viewer dengan cara memberikan arahan dalam tampilan dan
inilah yang disebut dengan directionals.  Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menarik perhatian viewer. Misalnya dengan menggunakan tanda panah, menggunakan
huruf bold, menggunakan bullets, dsb. Selain tiga contoh
sebelumnya, elemen warna juga dapat digunakan untuk menarik perhatian.
Warna-warna yang berani akan menarik perhatian dengan cepat apabila
dikombinasikan dengan warna-warna gelap.

 

Figure-Ground Contrast

Figure-ground
contrast
adalah upaya untuk membuat penonjolan sebuah unsur atau kelompok
unsur melalui berbagai cara: kontras nada, kontras arah, kontras ukuran,
kontras bentuk. Prinsip sederhana untuk figure-ground
contrast
adalah figur berwarna terang lebih cocok menggunakan background berwana gelap. Sebaliknya,
figure berwarna gelap lebih cocok menggunakan background berwarna terang.

 

Consistency

Dalam proses pembuatan sebuah
rangkaian tampilan visual, konsistensi adalah sebuah prinsip dasar yang tidak
boleh dilupakan. Hal ini bertujuan untuk tidak membingungkan viewer.

Visual
Planning Tools

Storyboard

Storyboarding adalah sebuah
metode perencanaan. Ketika mendesain sekelompok tampilan visual, misalnya
sebuah slide set atau video, maka diperlukan sebuah metode bagaimana cara
menyusun dan menyusun kembali keseluruhan sekuens dalam sebuah rangkaian
visual.

Types of Letters

Pemilihan jenis tulisan yang akan
digunakan dalam sebuah tampilan visual perlu disesuaikan dengan pesan apa yang
ingin disampaikan oleh desainer.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Heinich, Robert &
Molenda. 1996. Instructional Media and
Technologies for Learning
(7th Edition). New Jersey.

 

Some Design Principles and Rules, (Online), (http://www.goshen.edu/art/ed/Compose.htm#elements, diakses 14 maret
2008).

Wirakusumah, Teddy. 2006. Komunikasi Visual, (Online), (http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing/, diakses 26 February 2008)

 

 

 

The Roles of Visuals in Instruction

Salah satu peranan visual dalam pembelajaran adalah
sebagai sarana untuk menyediakan atau memberikan referensi yang konkret tentang
sebuah ide. Kata-kata tidak dapat mewakili atau menyuarakan benda karena visual
bersifat iconic. Oleh karena itu,
setiap kata memiliki kesamaan dengan benda yang dirujuk. Beberapa manfaat
visual dalam pembelajaran antara lain, visual dapat memotivasi pebelajar dengan
cara menarik perhatian mereka, mempertahankan perhatian serta mendapatkan
respon-respon emosional. Selain itu, visual juga dapat menyederhanakan
informasi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Dengan kata lain,
peranan visual dalam pembelajaran termasuk penting untuk mendukung informasi
tertulis dan informasi lisan (verbal information).

 

Visual Literacy

Visual Literacy adalah kemampuan pebelajar untuk
menganalisis sebuah pesan visual dalam pembelajaran. Visual Literacy dapat dikembangkan melalui dua macam pendekatan:

  • Input
    strategies. Membantu pebelajar untuk decode atau “membaca” dengan cara
    mempraktekkan kemampuan analisis visual.
  • Output
    strategies. Membantu pebelajar untuk encode, atau “menulis” secara visual untuk
    mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang lain.

Decoding: Interpretasi Visual

Dengan melihat
sebuah tampilan visual tidak berarti bahwa seorang pebelajar dapat belajar dari
tampilan tersebut. Pebelajar harus dibimbing untuk dapat memiliki pemikiran
yang jelas dan benar tentang tampilan visual tersebut. Aspek visual literacy yang pertama adalah
kemampuan untuk menginterpretasi dan menemukan makna dari stimulus yang ada di
lingkungan sekitar.

 

Developmental Effects

Banyak variable yang mempengaruhi seorang pebelajar dalam memaknai
sebuah tampilan visual. Anak-anak sampai pada usia 12 tahun cenderung memaknai
tampilan visual secara parsial. Disisi lain, anak yang lebih dewasa cenderung
mampu untuk menggambarkan kembali pesan yang ingin disampaikan dari sebuah
tampilan visual. Gambar-gambar abstrak atau rangkaian gambar diam (still pictures) kurang sesuai untuk
anak-anak (sampai usia 12 tahun).

 

Cultural Effects

Dalam mengajar, harus disadari bahwa
kemampuan pebelajar untuk menginterpretasi sebuah tampilan visual dapat
dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaannya. Misalnya, seorang pebelajar yang
berasal dari keluarga sederhana akan memiliki pemahaman yang berbeda mengenai
suatu tampilan visual dengan pebelajar yang berasal dari keluarga menengah
atas.

 

Visual Preferences

Dalam memilih tampilan visual, guru
sebaiknya memilih tampilan visual yang paling efektif daripada memilih tampilan
visual yang disukai. Misalnya, pembelajaran untuk anak-anak lebih cocok
menggunakan tampilan visual yang sederhana dan tidak menggunakan banyak
ilustrasi. Di sisi lain, tampilan visual pembelajaran untuk anak-anak yang
lebih dewasa lebih cocok menggunakan ilustrasi-ilustrasi yang lebih kompleks.

Kebanyakan pebelajar lebih menyukai
tampilan visual yang berwarna daripada tampilan visual hitam-putih. Sebenarnya
tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua hal tersebut kecuali ketika
ada hubungan antara topik yang sedang dipelajari dengan eksistensi warna.
Selain warna, pebelajar lebih suka tampilan visual dengan menggunakan foto
daripada line drawings (sekalipun
dalam beberapa situasi, line drawings
lebih sesuai digunakan dalam pembelajaran). Pada dasarnya, tampilan visual yang
sederhana akan lebih efektif bila digunakan dalam pembelajaran.

Perbedaan latar belakang
mempengaruhi kemampuan setiap pebelajar dalam
menginterpretasikan sebuah tampilan visual. Seorang guru dapat membantu mengembangkan
kemampuan visual pebelajar membiarkan mereka untuk “menggunakannya”, misalnya,
setiap pebelajar dapat belajar dengan melihat dan menganalisa tampilan visual.

Encoding: Menciptakan Visual

Aspek visual literacy yang kedua adalah kemampuan pebelajar untuk
menciptakan sebuah tampilan visual. Sama halnya dengan menulis yang dapat
menjadi stimuli untuk membaca, memproduksi media juga dapat menjadi cara yang
efektif untuk mengerti tentang media.

 

Goals of Visual Design

Setidaknya ada empat tujuan dasar desain visual yaitu:

  1. Ensure Legibility

Sebuah
tampilan visual tidak akan dapat berfungsi sampai tampilan itu dapat terbaca
oleh setiap orang yang melihatnya. Keterbacaan (legibility) berhubungan dengan
kualitas huruf pada tampilan dalam tingkat kemudahannya untuk dibaca. Tujuan
akhir dari sebuah tampilan desain visual yang baik adalah untuk menyingkirkan
sebanyak mungkin halangan yang mengganggu penyampaian sebuah pesan
pembelajaran.

 

  1. Reduce Effort

Seorang
desainer pasti merindukan agar pesan yang disampaikan melalui sebuah tampilan
dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu ia akan berusaha untuk
meminimalisir usaha-usaha yang mungkin dibutuhkan oleh setiap orang untuk
menangkap isi pesan tampilan visual tersebut.

 

  1. Increase Active Engagement

Sebuah
pesan tidak akan dapat bertahan sampai pesan itu mendapat perhatian. Hal inilah
yang menjadi dasar dari salah satu tujuan desain visual. Sebuah desain
sebaiknya dibuat semenarik mungkin untuk menarik perhatian viewer dan untuk membuat mereka memikirkan  tentang pesan yang sedang disampaikan.

 

  1. Focus Attention

Setelah
mendapatkan perhatian viewer, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengarahkan
perhatian mereka pada bagian terpenting dari tampilan pesan visual yang
telah  dibuat.

 

Processes of
Visual Design

Elements:

Langkah pertama
dalam mendesain sebuah tampilan visual adalah dengan mengumpulkan atau membuat
ilustrasi gambar dan desain teks yang akan digunakan.

Visual Elements

Tiga kategori simbol visual: (1) Realistic visuals menggambarkan objek
secara aktual atau sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebuah objek atau
peristiwa aktual akan selalu memiliki aspek yang tidak dapat diilustrasikan
sekalipun dalam gambar tiga dimensi.  (2)
Analogic visuals menggambarkan sebuah
konsep atau topik dengan menggunakan benda lain yang memiliki kemiripan.  (3) Organizational
visuals
meliputi: diagram, peta, skema, dll. Grafik seperti ini menunjukkan
hubungan antara poin-poin utama atau konsep dalam materi.

 

Verbal Elements

Huruf adalah bagian
terkecil dari sebuah kata. Sedangkan kata adalah bagian terkecil dari sebuah
gagasan. Sebuah gagasan yang baik dan telah tersusun lewat pemilihan kata yang
menarik bisa saja berakhir sia-sia karena kegagalan dalam memilih huruf.

 

Letter Style

  • Jenis huruf yang dipilih sebaiknya konsisten dan
    harmonis dengan elemen lain yang  ada
    dalam sebuah desain visual. Untuk keperluan desain pesan pembelajaran, jenis
    huruf yang sederhana lebih diutamakan. Misalnya huruf-huruf jenis Serif atau
    Sanserif.

 

Number of Lettering Style

  • Sebuah tampilan visual atau rangkaian tampilan visual
    sebaiknya tidak menggunakan lebih dari dua jenis huruf  dan kedua jenis huruf ini harus sesuai satu
    dengan yang lain.

 

 

 

Capitals

  • Untuk mendapatkan hasil tampilan yang legibel, maka
    gunakanlah huruf kecil. Huruf kapital lebih baik dipergunakan hanya pada
    saat-saat tertentu saja.

 

Color of Lettering

  • Warna huruf yang dipakai sebaiknya kontras dengan
    warna latar belakang (background). Hal ini perlu untuk memudahkan viewer dalam melihat hasil sebuah
    tayangan visual.

 

Size of Lettering

  • Bodytext antara 9 pt – 14 pt
  • Headline > 14 pt

 

Spacing Between Letters

  • Jarak antara huruf yang satu dengan yang lainnya
    sebaiknya tidak terlalu lebar. Perlu diperhatikan jenis huruf.

 

Spacing Between Lines

  • Jarak vertikal antara tiap baris sangat penting untuk
    legibilitas. Apabila jarak antar baris terlalu dekat, akan menyebabkan tulisan
    menjadi kabur dan tak terbaca; tetapi apabila jarak antar baris terlalu jauh,
    tulisan dalam tayangan akan terlihat kurang menyatu.

Elements That Add Appeal

Sebuah tampilan visual akan menjadi
berarti apabila  dapat menarik perhatian viewer.

 

Surprise

Hal mendasar yang
dapat menarik perhatian seseorang adalah karena adanya sesuatu yang tidak
terduga. Hal yang tidak terduga ini dapat berupa penggunaan metafora yang lain
dari biasanya, penggunaan permainan warna yang lebih berani, dll.

 

Texture

Kebanyakan tampilan
visual adalah dua dimensi. Namun, seorang desainer dapat membuat tampilan itu
menjadi tampilan tiga dimensi dengan cara memberikan tekstur atau material yang
bersifat aktual. Tekstur adalah karakter tiga dimensi objek atau material.

 

Interaction

Viewer dapat diminta untuk
memberikan respon terhadap sebuah tampilan visual dengan cara memanipulasi
materi yang ada dalam tayangan tersebut.

Pattern:

Alignment

  • Penataan baris rata kiri
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang baik
  • Dianjurkan untuk naskah yang panjang
  • Terkesan
    dinamis tetapi kurang rapi

 

  • Penataan baris rata kanan
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
  • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
  • Terkesan dinamis

 

  • Penataan baris rata kiri-kanan
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang cukup baik terutama
    jika jarak antar kata tetap terkontrol dengan baik
  • Terkesan rapi tetapi kurang dinamis
  • Dengan kontrol yang baik, dianjurkan untuk naskah
    panjang
  • Penataan baris terpusat di tengah
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
  • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
  • Terkesan statis

 

Shape

Cara selanjutnya untuk membuat  elemen visual dan elemen verbal adalah dengan
cara memilih dan meletakkannya dalam bentuk yang telah familiar. Bentuk-bentuk
seperti bentuk geometri adalah bentuk yang sesuai karena mudah ditebak oleh viewer. Prinsip lain yang dapat
digunakan sebagai panduan untuk penempatan elemen visual adalah hukum yang
ketiga yaitu elemen diletakkan pada jarak sepertiga dari bagian pojok kiri atas
sebuah tampilan.

 

Balance

Ukuran nada, berat
dan posisi unsur-unsur dalam sebuah rancangan tampilan dikendalikan dengan
sebuah keseimbangan. Unsur-unsur yang tertata seimbang terlihat aman dan nyaman
oleh mata. Cara menguji keseimbangan adalah dengan cara menguji hubungan bagian
kiri dan kanan. Pada dasarnya, terdapat dua bentuk keseimbangan yaitu formal
dan informal.

  • Keseimbangan formal

Rancangan yang seimbang formal memiliki unsur-unsur
berat, ukuran, bentuk yang sama pada sisi kanan dan sisi kiri dalam suatu garis
vertical imajiner yang digambarkan di pusat tampilan. Rancangan yang simetris
memberikan kesan stabilitas dan konservatif, tetapi pada suatu saat terlihat
tidak imajinatif.

 

Gambar kupu-kupu di samping simetris. Kedua sisi
memiliki kesamaa dan kekuatan yang seimbang secara visual. Selain itu gambar
kupu-kupu tercermin kembali.

 

 

 

  • Keseimbangan informal

Dalam keseimbangan informal, objek ditempatkan secara
acak dalam halaman tetapi secara keseluruhan tampak seimbang. Bentuk penyusunan
ini memerlukan pemikiran daripada keseimbangan formal bersimetris sederhana,
tetapi efeknya dapat imajinatif dan dinamis.

 

Gambar
kupu-kupu di atas asimteris. Kedua sisi memiliki  kekuatan visual yang hampir sama tetapi
gambar kupu-kupu tersebut tidak tercermin kembali.

 

Style

Style
ditentukan oleh perbedaan kondisi yang ada di lapangan. Tampilan rancangan
yang ditujukan untuk pembelajaran anak-anak akan memiliki tampilan rancangan
yang berbeda dengan desain pembelajaran yang ditujukan untuk pebelajar dewasa.

 

Color Scheme

Warna merupakan unsur visual yang
penting dan merupakan gejala penglihatan yang paling menarik. Warna  dapat berperan sebagai berikut:

  • Memberikan kesan realistik
  • Berfungsi sebagai pemisah antara elemen visual yang
    satu dengan yang lain
  • Membangkitkan perhatian
  • Memiliki bahasa psikologis untuk menguatkan mood pesan
  • Meningkatkan tampilan artistik

Berikut
ini adalah saran kombinasi warna untuk background
dan foreground (Color in
Instructional Communication):

Background ForegroundImages & Text Highlights
WhiteLight grey

Blue

Light blue

Light yellow

Dark blueBlue, green, black

Light yellow, white

Dark blue, dark green

Violet, brown

Red, orangeRed

Yellow, red

Red-orange

Red

 

Color Appeal

Warna-warna seperti biru, hijau dan
ungu termasuk warna-warna dingin; sedangkan merah dan oranye tergolong warna
yang hangat. Ketika memilih warna, seorang desainer perlu memperhatikan situasi
emosional apa yang ingin didapatkan melalui sebuah tampilan.

 

Arrangement:

Proximity

Prinsip proximity adalah pengelompokkan elemen.
Elemen yang saling berhubungan diletakkan saling berdekatan, sedangkan elemen
yang tidak berhubungan sedapat mungkin dijauhkan sehingga viewer dapat dengan
mudah menangkap makna sebuah tayangan.

 

Directionals

Viewer melihat sebuah tampilan dengan mengarahkan
perhatiannya ke tiap bagian tampilan secara bergantian. Seorang desainer dapat
mengatur perhatian viewer dengan cara memberikan arahan dalam tampilan dan
inilah yang disebut dengan directionals.  Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menarik perhatian viewer. Misalnya dengan menggunakan tanda panah, menggunakan
huruf bold, menggunakan bullets, dsb. Selain tiga contoh
sebelumnya, elemen warna juga dapat digunakan untuk menarik perhatian.
Warna-warna yang berani akan menarik perhatian dengan cepat apabila
dikombinasikan dengan warna-warna gelap.

 

Figure-Ground Contrast

Figure-ground
contrast
adalah upaya untuk membuat penonjolan sebuah unsur atau kelompok
unsur melalui berbagai cara: kontras nada, kontras arah, kontras ukuran,
kontras bentuk. Prinsip sederhana untuk figure-ground
contrast
adalah figur berwarna terang lebih cocok menggunakan background berwana gelap. Sebaliknya,
figure berwarna gelap lebih cocok menggunakan background berwarna terang.

 

Consistency

Dalam proses pembuatan sebuah
rangkaian tampilan visual, konsistensi adalah sebuah prinsip dasar yang tidak
boleh dilupakan. Hal ini bertujuan untuk tidak membingungkan viewer.

Visual
Planning Tools

Storyboard

Storyboarding adalah sebuah
metode perencanaan. Ketika mendesain sekelompok tampilan visual, misalnya
sebuah slide set atau video, maka diperlukan sebuah metode bagaimana cara
menyusun dan menyusun kembali keseluruhan sekuens dalam sebuah rangkaian
visual.

Types of Letters

Pemilihan jenis tulisan yang akan
digunakan dalam sebuah tampilan visual perlu disesuaikan dengan pesan apa yang
ingin disampaikan oleh desainer.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Heinich, Robert &
Molenda. 1996. Instructional Media and
Technologies for Learning
(7th Edition). New Jersey.

 

Some Design Principles and Rules, (Online), (http://www.goshen.edu/art/ed/Compose.htm#elements, diakses 14 maret
2008).

Wirakusumah, Teddy. 2006. Komunikasi Visual, (Online), (http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing/, diakses 26 February 2008)

 

 

 

The Roles of Visuals in Instruction

Salah satu peranan visual dalam pembelajaran adalah
sebagai sarana untuk menyediakan atau memberikan referensi yang konkret tentang
sebuah ide. Kata-kata tidak dapat mewakili atau menyuarakan benda karena visual
bersifat iconic. Oleh karena itu,
setiap kata memiliki kesamaan dengan benda yang dirujuk. Beberapa manfaat
visual dalam pembelajaran antara lain, visual dapat memotivasi pebelajar dengan
cara menarik perhatian mereka, mempertahankan perhatian serta mendapatkan
respon-respon emosional. Selain itu, visual juga dapat menyederhanakan
informasi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Dengan kata lain,
peranan visual dalam pembelajaran termasuk penting untuk mendukung informasi
tertulis dan informasi lisan (verbal information).

 

Visual Literacy

Visual Literacy adalah kemampuan pebelajar untuk
menganalisis sebuah pesan visual dalam pembelajaran. Visual Literacy dapat dikembangkan melalui dua macam pendekatan:

  • Input
    strategies. Membantu pebelajar untuk decode atau “membaca” dengan cara
    mempraktekkan kemampuan analisis visual.
  • Output
    strategies. Membantu pebelajar untuk encode, atau “menulis” secara visual untuk
    mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang lain.

Decoding: Interpretasi Visual

Dengan melihat
sebuah tampilan visual tidak berarti bahwa seorang pebelajar dapat belajar dari
tampilan tersebut. Pebelajar harus dibimbing untuk dapat memiliki pemikiran
yang jelas dan benar tentang tampilan visual tersebut. Aspek visual literacy yang pertama adalah
kemampuan untuk menginterpretasi dan menemukan makna dari stimulus yang ada di
lingkungan sekitar.

 

Developmental Effects

Banyak variable yang mempengaruhi seorang pebelajar dalam memaknai
sebuah tampilan visual. Anak-anak sampai pada usia 12 tahun cenderung memaknai
tampilan visual secara parsial. Disisi lain, anak yang lebih dewasa cenderung
mampu untuk menggambarkan kembali pesan yang ingin disampaikan dari sebuah
tampilan visual. Gambar-gambar abstrak atau rangkaian gambar diam (still pictures) kurang sesuai untuk
anak-anak (sampai usia 12 tahun).

 

Cultural Effects

Dalam mengajar, harus disadari bahwa
kemampuan pebelajar untuk menginterpretasi sebuah tampilan visual dapat
dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaannya. Misalnya, seorang pebelajar yang
berasal dari keluarga sederhana akan memiliki pemahaman yang berbeda mengenai
suatu tampilan visual dengan pebelajar yang berasal dari keluarga menengah
atas.

 

Visual Preferences

Dalam memilih tampilan visual, guru
sebaiknya memilih tampilan visual yang paling efektif daripada memilih tampilan
visual yang disukai. Misalnya, pembelajaran untuk anak-anak lebih cocok
menggunakan tampilan visual yang sederhana dan tidak menggunakan banyak
ilustrasi. Di sisi lain, tampilan visual pembelajaran untuk anak-anak yang
lebih dewasa lebih cocok menggunakan ilustrasi-ilustrasi yang lebih kompleks.

Kebanyakan pebelajar lebih menyukai
tampilan visual yang berwarna daripada tampilan visual hitam-putih. Sebenarnya
tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua hal tersebut kecuali ketika
ada hubungan antara topik yang sedang dipelajari dengan eksistensi warna.
Selain warna, pebelajar lebih suka tampilan visual dengan menggunakan foto
daripada line drawings (sekalipun
dalam beberapa situasi, line drawings
lebih sesuai digunakan dalam pembelajaran). Pada dasarnya, tampilan visual yang
sederhana akan lebih efektif bila digunakan dalam pembelajaran.

Perbedaan latar belakang
mempengaruhi kemampuan setiap pebelajar dalam
menginterpretasikan sebuah tampilan visual. Seorang guru dapat membantu mengembangkan
kemampuan visual pebelajar membiarkan mereka untuk “menggunakannya”, misalnya,
setiap pebelajar dapat belajar dengan melihat dan menganalisa tampilan visual.

Encoding: Menciptakan Visual

Aspek visual literacy yang kedua adalah kemampuan pebelajar untuk
menciptakan sebuah tampilan visual. Sama halnya dengan menulis yang dapat
menjadi stimuli untuk membaca, memproduksi media juga dapat menjadi cara yang
efektif untuk mengerti tentang media.

 

Goals of Visual Design

Setidaknya ada empat tujuan dasar desain visual yaitu:

  1. Ensure Legibility

Sebuah
tampilan visual tidak akan dapat berfungsi sampai tampilan itu dapat terbaca
oleh setiap orang yang melihatnya. Keterbacaan (legibility) berhubungan dengan
kualitas huruf pada tampilan dalam tingkat kemudahannya untuk dibaca. Tujuan
akhir dari sebuah tampilan desain visual yang baik adalah untuk menyingkirkan
sebanyak mungkin halangan yang mengganggu penyampaian sebuah pesan
pembelajaran.

 

  1. Reduce Effort

Seorang
desainer pasti merindukan agar pesan yang disampaikan melalui sebuah tampilan
dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu ia akan berusaha untuk
meminimalisir usaha-usaha yang mungkin dibutuhkan oleh setiap orang untuk
menangkap isi pesan tampilan visual tersebut.

 

  1. Increase Active Engagement

Sebuah
pesan tidak akan dapat bertahan sampai pesan itu mendapat perhatian. Hal inilah
yang menjadi dasar dari salah satu tujuan desain visual. Sebuah desain
sebaiknya dibuat semenarik mungkin untuk menarik perhatian viewer dan untuk membuat mereka memikirkan  tentang pesan yang sedang disampaikan.

 

  1. Focus Attention

Setelah
mendapatkan perhatian viewer, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengarahkan
perhatian mereka pada bagian terpenting dari tampilan pesan visual yang
telah  dibuat.

 

Processes of
Visual Design

Elements:

Langkah pertama
dalam mendesain sebuah tampilan visual adalah dengan mengumpulkan atau membuat
ilustrasi gambar dan desain teks yang akan digunakan.

Visual Elements

Tiga kategori simbol visual: (1) Realistic visuals menggambarkan objek
secara aktual atau sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebuah objek atau
peristiwa aktual akan selalu memiliki aspek yang tidak dapat diilustrasikan
sekalipun dalam gambar tiga dimensi.  (2)
Analogic visuals menggambarkan sebuah
konsep atau topik dengan menggunakan benda lain yang memiliki kemiripan.  (3) Organizational
visuals
meliputi: diagram, peta, skema, dll. Grafik seperti ini menunjukkan
hubungan antara poin-poin utama atau konsep dalam materi.

 

Verbal Elements

Huruf adalah bagian
terkecil dari sebuah kata. Sedangkan kata adalah bagian terkecil dari sebuah
gagasan. Sebuah gagasan yang baik dan telah tersusun lewat pemilihan kata yang
menarik bisa saja berakhir sia-sia karena kegagalan dalam memilih huruf.

 

Letter Style

  • Jenis huruf yang dipilih sebaiknya konsisten dan
    harmonis dengan elemen lain yang  ada
    dalam sebuah desain visual. Untuk keperluan desain pesan pembelajaran, jenis
    huruf yang sederhana lebih diutamakan. Misalnya huruf-huruf jenis Serif atau
    Sanserif.

 

Number of Lettering Style

  • Sebuah tampilan visual atau rangkaian tampilan visual
    sebaiknya tidak menggunakan lebih dari dua jenis huruf  dan kedua jenis huruf ini harus sesuai satu
    dengan yang lain.

 

 

 

Capitals

  • Untuk mendapatkan hasil tampilan yang legibel, maka
    gunakanlah huruf kecil. Huruf kapital lebih baik dipergunakan hanya pada
    saat-saat tertentu saja.

 

Color of Lettering

  • Warna huruf yang dipakai sebaiknya kontras dengan
    warna latar belakang (background). Hal ini perlu untuk memudahkan viewer dalam melihat hasil sebuah
    tayangan visual.

 

Size of Lettering

  • Bodytext antara 9 pt – 14 pt
  • Headline > 14 pt

 

Spacing Between Letters

  • Jarak antara huruf yang satu dengan yang lainnya
    sebaiknya tidak terlalu lebar. Perlu diperhatikan jenis huruf.

 

Spacing Between Lines

  • Jarak vertikal antara tiap baris sangat penting untuk
    legibilitas. Apabila jarak antar baris terlalu dekat, akan menyebabkan tulisan
    menjadi kabur dan tak terbaca; tetapi apabila jarak antar baris terlalu jauh,
    tulisan dalam tayangan akan terlihat kurang menyatu.

Elements That Add Appeal

Sebuah tampilan visual akan menjadi
berarti apabila  dapat menarik perhatian viewer.

 

Surprise

Hal mendasar yang
dapat menarik perhatian seseorang adalah karena adanya sesuatu yang tidak
terduga. Hal yang tidak terduga ini dapat berupa penggunaan metafora yang lain
dari biasanya, penggunaan permainan warna yang lebih berani, dll.

 

Texture

Kebanyakan tampilan
visual adalah dua dimensi. Namun, seorang desainer dapat membuat tampilan itu
menjadi tampilan tiga dimensi dengan cara memberikan tekstur atau material yang
bersifat aktual. Tekstur adalah karakter tiga dimensi objek atau material.

 

Interaction

Viewer dapat diminta untuk
memberikan respon terhadap sebuah tampilan visual dengan cara memanipulasi
materi yang ada dalam tayangan tersebut.

Pattern:

Alignment

  • Penataan baris rata kiri
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang baik
  • Dianjurkan untuk naskah yang panjang
  • Terkesan
    dinamis tetapi kurang rapi

 

  • Penataan baris rata kanan
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
  • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
  • Terkesan dinamis

 

  • Penataan baris rata kiri-kanan
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang cukup baik terutama
    jika jarak antar kata tetap terkontrol dengan baik
  • Terkesan rapi tetapi kurang dinamis
  • Dengan kontrol yang baik, dianjurkan untuk naskah
    panjang
  • Penataan baris terpusat di tengah
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
  • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
  • Terkesan statis

 

Shape

Cara selanjutnya untuk membuat  elemen visual dan elemen verbal adalah dengan
cara memilih dan meletakkannya dalam bentuk yang telah familiar. Bentuk-bentuk
seperti bentuk geometri adalah bentuk yang sesuai karena mudah ditebak oleh viewer. Prinsip lain yang dapat
digunakan sebagai panduan untuk penempatan elemen visual adalah hukum yang
ketiga yaitu elemen diletakkan pada jarak sepertiga dari bagian pojok kiri atas
sebuah tampilan.

 

Balance

Ukuran nada, berat
dan posisi unsur-unsur dalam sebuah rancangan tampilan dikendalikan dengan
sebuah keseimbangan. Unsur-unsur yang tertata seimbang terlihat aman dan nyaman
oleh mata. Cara menguji keseimbangan adalah dengan cara menguji hubungan bagian
kiri dan kanan. Pada dasarnya, terdapat dua bentuk keseimbangan yaitu formal
dan informal.

  • Keseimbangan formal

Rancangan yang seimbang formal memiliki unsur-unsur
berat, ukuran, bentuk yang sama pada sisi kanan dan sisi kiri dalam suatu garis
vertical imajiner yang digambarkan di pusat tampilan. Rancangan yang simetris
memberikan kesan stabilitas dan konservatif, tetapi pada suatu saat terlihat
tidak imajinatif.

 

Gambar kupu-kupu di samping simetris. Kedua sisi
memiliki kesamaa dan kekuatan yang seimbang secara visual. Selain itu gambar
kupu-kupu tercermin kembali.

 

 

 

  • Keseimbangan informal

Dalam keseimbangan informal, objek ditempatkan secara
acak dalam halaman tetapi secara keseluruhan tampak seimbang. Bentuk penyusunan
ini memerlukan pemikiran daripada keseimbangan formal bersimetris sederhana,
tetapi efeknya dapat imajinatif dan dinamis.

 

Gambar
kupu-kupu di atas asimteris. Kedua sisi memiliki  kekuatan visual yang hampir sama tetapi
gambar kupu-kupu tersebut tidak tercermin kembali.

 

Style

Style
ditentukan oleh perbedaan kondisi yang ada di lapangan. Tampilan rancangan
yang ditujukan untuk pembelajaran anak-anak akan memiliki tampilan rancangan
yang berbeda dengan desain pembelajaran yang ditujukan untuk pebelajar dewasa.

 

Color Scheme

Warna merupakan unsur visual yang
penting dan merupakan gejala penglihatan yang paling menarik. Warna  dapat berperan sebagai berikut:

  • Memberikan kesan realistik
  • Berfungsi sebagai pemisah antara elemen visual yang
    satu dengan yang lain
  • Membangkitkan perhatian
  • Memiliki bahasa psikologis untuk menguatkan mood pesan
  • Meningkatkan tampilan artistik

Berikut
ini adalah saran kombinasi warna untuk background
dan foreground (Color in
Instructional Communication):

Background ForegroundImages & Text Highlights
WhiteLight grey

Blue

Light blue

Light yellow

Dark blueBlue, green, black

Light yellow, white

Dark blue, dark green

Violet, brown

Red, orangeRed

Yellow, red

Red-orange

Red

 

Color Appeal

Warna-warna seperti biru, hijau dan
ungu termasuk warna-warna dingin; sedangkan merah dan oranye tergolong warna
yang hangat. Ketika memilih warna, seorang desainer perlu memperhatikan situasi
emosional apa yang ingin didapatkan melalui sebuah tampilan.

 

Arrangement:

Proximity

Prinsip proximity adalah pengelompokkan elemen.
Elemen yang saling berhubungan diletakkan saling berdekatan, sedangkan elemen
yang tidak berhubungan sedapat mungkin dijauhkan sehingga viewer dapat dengan
mudah menangkap makna sebuah tayangan.

 

Directionals

Viewer melihat sebuah tampilan dengan mengarahkan
perhatiannya ke tiap bagian tampilan secara bergantian. Seorang desainer dapat
mengatur perhatian viewer dengan cara memberikan arahan dalam tampilan dan
inilah yang disebut dengan directionals.  Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menarik perhatian viewer. Misalnya dengan menggunakan tanda panah, menggunakan
huruf bold, menggunakan bullets, dsb. Selain tiga contoh
sebelumnya, elemen warna juga dapat digunakan untuk menarik perhatian.
Warna-warna yang berani akan menarik perhatian dengan cepat apabila
dikombinasikan dengan warna-warna gelap.

 

Figure-Ground Contrast

Figure-ground
contrast
adalah upaya untuk membuat penonjolan sebuah unsur atau kelompok
unsur melalui berbagai cara: kontras nada, kontras arah, kontras ukuran,
kontras bentuk. Prinsip sederhana untuk figure-ground
contrast
adalah figur berwarna terang lebih cocok menggunakan background berwana gelap. Sebaliknya,
figure berwarna gelap lebih cocok menggunakan background berwarna terang.

 

Consistency

Dalam proses pembuatan sebuah
rangkaian tampilan visual, konsistensi adalah sebuah prinsip dasar yang tidak
boleh dilupakan. Hal ini bertujuan untuk tidak membingungkan viewer.

Visual
Planning Tools

Storyboard

Storyboarding adalah sebuah
metode perencanaan. Ketika mendesain sekelompok tampilan visual, misalnya
sebuah slide set atau video, maka diperlukan sebuah metode bagaimana cara
menyusun dan menyusun kembali keseluruhan sekuens dalam sebuah rangkaian
visual.

Types of Letters

Pemilihan jenis tulisan yang akan
digunakan dalam sebuah tampilan visual perlu disesuaikan dengan pesan apa yang
ingin disampaikan oleh desainer.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Heinich, Robert &
Molenda. 1996. Instructional Media and
Technologies for Learning
(7th Edition). New Jersey.

 

Some Design Principles and Rules, (Online), (http://www.goshen.edu/art/ed/Compose.htm#elements, diakses 14 maret
2008).

Wirakusumah, Teddy. 2006. Komunikasi Visual, (Online), (http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing/, diakses 26 February 2008)

 

 

 

The Roles of Visuals in Instruction

Salah satu peranan visual dalam pembelajaran adalah
sebagai sarana untuk menyediakan atau memberikan referensi yang konkret tentang
sebuah ide. Kata-kata tidak dapat mewakili atau menyuarakan benda karena visual
bersifat iconic. Oleh karena itu,
setiap kata memiliki kesamaan dengan benda yang dirujuk. Beberapa manfaat
visual dalam pembelajaran antara lain, visual dapat memotivasi pebelajar dengan
cara menarik perhatian mereka, mempertahankan perhatian serta mendapatkan
respon-respon emosional. Selain itu, visual juga dapat menyederhanakan
informasi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Dengan kata lain,
peranan visual dalam pembelajaran termasuk penting untuk mendukung informasi
tertulis dan informasi lisan (verbal information).

 

Visual Literacy

Visual Literacy adalah kemampuan pebelajar untuk
menganalisis sebuah pesan visual dalam pembelajaran. Visual Literacy dapat dikembangkan melalui dua macam pendekatan:

  • Input
    strategies. Membantu pebelajar untuk decode atau “membaca” dengan cara
    mempraktekkan kemampuan analisis visual.
  • Output
    strategies. Membantu pebelajar untuk encode, atau “menulis” secara visual untuk
    mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang lain.

Decoding: Interpretasi Visual

Dengan melihat
sebuah tampilan visual tidak berarti bahwa seorang pebelajar dapat belajar dari
tampilan tersebut. Pebelajar harus dibimbing untuk dapat memiliki pemikiran
yang jelas dan benar tentang tampilan visual tersebut. Aspek visual literacy yang pertama adalah
kemampuan untuk menginterpretasi dan menemukan makna dari stimulus yang ada di
lingkungan sekitar.

 

Developmental Effects

Banyak variable yang mempengaruhi seorang pebelajar dalam memaknai
sebuah tampilan visual. Anak-anak sampai pada usia 12 tahun cenderung memaknai
tampilan visual secara parsial. Disisi lain, anak yang lebih dewasa cenderung
mampu untuk menggambarkan kembali pesan yang ingin disampaikan dari sebuah
tampilan visual. Gambar-gambar abstrak atau rangkaian gambar diam (still pictures) kurang sesuai untuk
anak-anak (sampai usia 12 tahun).

 

Cultural Effects

Dalam mengajar, harus disadari bahwa
kemampuan pebelajar untuk menginterpretasi sebuah tampilan visual dapat
dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaannya. Misalnya, seorang pebelajar yang
berasal dari keluarga sederhana akan memiliki pemahaman yang berbeda mengenai
suatu tampilan visual dengan pebelajar yang berasal dari keluarga menengah
atas.

 

Visual Preferences

Dalam memilih tampilan visual, guru
sebaiknya memilih tampilan visual yang paling efektif daripada memilih tampilan
visual yang disukai. Misalnya, pembelajaran untuk anak-anak lebih cocok
menggunakan tampilan visual yang sederhana dan tidak menggunakan banyak
ilustrasi. Di sisi lain, tampilan visual pembelajaran untuk anak-anak yang
lebih dewasa lebih cocok menggunakan ilustrasi-ilustrasi yang lebih kompleks.

Kebanyakan pebelajar lebih menyukai
tampilan visual yang berwarna daripada tampilan visual hitam-putih. Sebenarnya
tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua hal tersebut kecuali ketika
ada hubungan antara topik yang sedang dipelajari dengan eksistensi warna.
Selain warna, pebelajar lebih suka tampilan visual dengan menggunakan foto
daripada line drawings (sekalipun
dalam beberapa situasi, line drawings
lebih sesuai digunakan dalam pembelajaran). Pada dasarnya, tampilan visual yang
sederhana akan lebih efektif bila digunakan dalam pembelajaran.

Perbedaan latar belakang
mempengaruhi kemampuan setiap pebelajar dalam
menginterpretasikan sebuah tampilan visual. Seorang guru dapat membantu mengembangkan
kemampuan visual pebelajar membiarkan mereka untuk “menggunakannya”, misalnya,
setiap pebelajar dapat belajar dengan melihat dan menganalisa tampilan visual.

Encoding: Menciptakan Visual

Aspek visual literacy yang kedua adalah kemampuan pebelajar untuk
menciptakan sebuah tampilan visual. Sama halnya dengan menulis yang dapat
menjadi stimuli untuk membaca, memproduksi media juga dapat menjadi cara yang
efektif untuk mengerti tentang media.

 

Goals of Visual Design

Setidaknya ada empat tujuan dasar desain visual yaitu:

  1. Ensure Legibility

Sebuah
tampilan visual tidak akan dapat berfungsi sampai tampilan itu dapat terbaca
oleh setiap orang yang melihatnya. Keterbacaan (legibility) berhubungan dengan
kualitas huruf pada tampilan dalam tingkat kemudahannya untuk dibaca. Tujuan
akhir dari sebuah tampilan desain visual yang baik adalah untuk menyingkirkan
sebanyak mungkin halangan yang mengganggu penyampaian sebuah pesan
pembelajaran.

 

  1. Reduce Effort

Seorang
desainer pasti merindukan agar pesan yang disampaikan melalui sebuah tampilan
dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu ia akan berusaha untuk
meminimalisir usaha-usaha yang mungkin dibutuhkan oleh setiap orang untuk
menangkap isi pesan tampilan visual tersebut.

 

  1. Increase Active Engagement

Sebuah
pesan tidak akan dapat bertahan sampai pesan itu mendapat perhatian. Hal inilah
yang menjadi dasar dari salah satu tujuan desain visual. Sebuah desain
sebaiknya dibuat semenarik mungkin untuk menarik perhatian viewer dan untuk membuat mereka memikirkan  tentang pesan yang sedang disampaikan.

 

  1. Focus Attention

Setelah
mendapatkan perhatian viewer, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengarahkan
perhatian mereka pada bagian terpenting dari tampilan pesan visual yang
telah  dibuat.

 

Processes of
Visual Design

Elements:

Langkah pertama
dalam mendesain sebuah tampilan visual adalah dengan mengumpulkan atau membuat
ilustrasi gambar dan desain teks yang akan digunakan.

Visual Elements

Tiga kategori simbol visual: (1) Realistic visuals menggambarkan objek
secara aktual atau sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebuah objek atau
peristiwa aktual akan selalu memiliki aspek yang tidak dapat diilustrasikan
sekalipun dalam gambar tiga dimensi.  (2)
Analogic visuals menggambarkan sebuah
konsep atau topik dengan menggunakan benda lain yang memiliki kemiripan.  (3) Organizational
visuals
meliputi: diagram, peta, skema, dll. Grafik seperti ini menunjukkan
hubungan antara poin-poin utama atau konsep dalam materi.

 

Verbal Elements

Huruf adalah bagian
terkecil dari sebuah kata. Sedangkan kata adalah bagian terkecil dari sebuah
gagasan. Sebuah gagasan yang baik dan telah tersusun lewat pemilihan kata yang
menarik bisa saja berakhir sia-sia karena kegagalan dalam memilih huruf.

 

Letter Style

  • Jenis huruf yang dipilih sebaiknya konsisten dan
    harmonis dengan elemen lain yang  ada
    dalam sebuah desain visual. Untuk keperluan desain pesan pembelajaran, jenis
    huruf yang sederhana lebih diutamakan. Misalnya huruf-huruf jenis Serif atau
    Sanserif.

 

Number of Lettering Style

  • Sebuah tampilan visual atau rangkaian tampilan visual
    sebaiknya tidak menggunakan lebih dari dua jenis huruf  dan kedua jenis huruf ini harus sesuai satu
    dengan yang lain.

 

 

 

Capitals

  • Untuk mendapatkan hasil tampilan yang legibel, maka
    gunakanlah huruf kecil. Huruf kapital lebih baik dipergunakan hanya pada
    saat-saat tertentu saja.

 

Color of Lettering

  • Warna huruf yang dipakai sebaiknya kontras dengan
    warna latar belakang (background). Hal ini perlu untuk memudahkan viewer dalam melihat hasil sebuah
    tayangan visual.

 

Size of Lettering

  • Bodytext antara 9 pt – 14 pt
  • Headline > 14 pt

 

Spacing Between Letters

  • Jarak antara huruf yang satu dengan yang lainnya
    sebaiknya tidak terlalu lebar. Perlu diperhatikan jenis huruf.

 

Spacing Between Lines

  • Jarak vertikal antara tiap baris sangat penting untuk
    legibilitas. Apabila jarak antar baris terlalu dekat, akan menyebabkan tulisan
    menjadi kabur dan tak terbaca; tetapi apabila jarak antar baris terlalu jauh,
    tulisan dalam tayangan akan terlihat kurang menyatu.

Elements That Add Appeal

Sebuah tampilan visual akan menjadi
berarti apabila  dapat menarik perhatian viewer.

 

Surprise

Hal mendasar yang
dapat menarik perhatian seseorang adalah karena adanya sesuatu yang tidak
terduga. Hal yang tidak terduga ini dapat berupa penggunaan metafora yang lain
dari biasanya, penggunaan permainan warna yang lebih berani, dll.

 

Texture

Kebanyakan tampilan
visual adalah dua dimensi. Namun, seorang desainer dapat membuat tampilan itu
menjadi tampilan tiga dimensi dengan cara memberikan tekstur atau material yang
bersifat aktual. Tekstur adalah karakter tiga dimensi objek atau material.

 

Interaction

Viewer dapat diminta untuk
memberikan respon terhadap sebuah tampilan visual dengan cara memanipulasi
materi yang ada dalam tayangan tersebut.

Pattern:

Alignment

  • Penataan baris rata kiri
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang baik
  • Dianjurkan untuk naskah yang panjang
  • Terkesan
    dinamis tetapi kurang rapi

 

  • Penataan baris rata kanan
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
  • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
  • Terkesan dinamis

 

  • Penataan baris rata kiri-kanan
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang cukup baik terutama
    jika jarak antar kata tetap terkontrol dengan baik
  • Terkesan rapi tetapi kurang dinamis
  • Dengan kontrol yang baik, dianjurkan untuk naskah
    panjang
  • Penataan baris terpusat di tengah
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
  • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
  • Terkesan statis

 

Shape

Cara selanjutnya untuk membuat  elemen visual dan elemen verbal adalah dengan
cara memilih dan meletakkannya dalam bentuk yang telah familiar. Bentuk-bentuk
seperti bentuk geometri adalah bentuk yang sesuai karena mudah ditebak oleh viewer. Prinsip lain yang dapat
digunakan sebagai panduan untuk penempatan elemen visual adalah hukum yang
ketiga yaitu elemen diletakkan pada jarak sepertiga dari bagian pojok kiri atas
sebuah tampilan.

 

Balance

Ukuran nada, berat
dan posisi unsur-unsur dalam sebuah rancangan tampilan dikendalikan dengan
sebuah keseimbangan. Unsur-unsur yang tertata seimbang terlihat aman dan nyaman
oleh mata. Cara menguji keseimbangan adalah dengan cara menguji hubungan bagian
kiri dan kanan. Pada dasarnya, terdapat dua bentuk keseimbangan yaitu formal
dan informal.

  • Keseimbangan formal

Rancangan yang seimbang formal memiliki unsur-unsur
berat, ukuran, bentuk yang sama pada sisi kanan dan sisi kiri dalam suatu garis
vertical imajiner yang digambarkan di pusat tampilan. Rancangan yang simetris
memberikan kesan stabilitas dan konservatif, tetapi pada suatu saat terlihat
tidak imajinatif.

 

Gambar kupu-kupu di samping simetris. Kedua sisi
memiliki kesamaa dan kekuatan yang seimbang secara visual. Selain itu gambar
kupu-kupu tercermin kembali.

 

 

 

  • Keseimbangan informal

Dalam keseimbangan informal, objek ditempatkan secara
acak dalam halaman tetapi secara keseluruhan tampak seimbang. Bentuk penyusunan
ini memerlukan pemikiran daripada keseimbangan formal bersimetris sederhana,
tetapi efeknya dapat imajinatif dan dinamis.

 

Gambar
kupu-kupu di atas asimteris. Kedua sisi memiliki  kekuatan visual yang hampir sama tetapi
gambar kupu-kupu tersebut tidak tercermin kembali.

 

Style

Style
ditentukan oleh perbedaan kondisi yang ada di lapangan. Tampilan rancangan
yang ditujukan untuk pembelajaran anak-anak akan memiliki tampilan rancangan
yang berbeda dengan desain pembelajaran yang ditujukan untuk pebelajar dewasa.

 

Color Scheme

Warna merupakan unsur visual yang
penting dan merupakan gejala penglihatan yang paling menarik. Warna  dapat berperan sebagai berikut:

  • Memberikan kesan realistik
  • Berfungsi sebagai pemisah antara elemen visual yang
    satu dengan yang lain
  • Membangkitkan perhatian
  • Memiliki bahasa psikologis untuk menguatkan mood pesan
  • Meningkatkan tampilan artistik

Berikut
ini adalah saran kombinasi warna untuk background
dan foreground (Color in
Instructional Communication):

Background ForegroundImages & Text Highlights
WhiteLight grey

Blue

Light blue

Light yellow

Dark blueBlue, green, black

Light yellow, white

Dark blue, dark green

Violet, brown

Red, orangeRed

Yellow, red

Red-orange

Red

 

Color Appeal

Warna-warna seperti biru, hijau dan
ungu termasuk warna-warna dingin; sedangkan merah dan oranye tergolong warna
yang hangat. Ketika memilih warna, seorang desainer perlu memperhatikan situasi
emosional apa yang ingin didapatkan melalui sebuah tampilan.

 

Arrangement:

Proximity

Prinsip proximity adalah pengelompokkan elemen.
Elemen yang saling berhubungan diletakkan saling berdekatan, sedangkan elemen
yang tidak berhubungan sedapat mungkin dijauhkan sehingga viewer dapat dengan
mudah menangkap makna sebuah tayangan.

 

Directionals

Viewer melihat sebuah tampilan dengan mengarahkan
perhatiannya ke tiap bagian tampilan secara bergantian. Seorang desainer dapat
mengatur perhatian viewer dengan cara memberikan arahan dalam tampilan dan
inilah yang disebut dengan directionals.  Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menarik perhatian viewer. Misalnya dengan menggunakan tanda panah, menggunakan
huruf bold, menggunakan bullets, dsb. Selain tiga contoh
sebelumnya, elemen warna juga dapat digunakan untuk menarik perhatian.
Warna-warna yang berani akan menarik perhatian dengan cepat apabila
dikombinasikan dengan warna-warna gelap.

 

Figure-Ground Contrast

Figure-ground
contrast
adalah upaya untuk membuat penonjolan sebuah unsur atau kelompok
unsur melalui berbagai cara: kontras nada, kontras arah, kontras ukuran,
kontras bentuk. Prinsip sederhana untuk figure-ground
contrast
adalah figur berwarna terang lebih cocok menggunakan background berwana gelap. Sebaliknya,
figure berwarna gelap lebih cocok menggunakan background berwarna terang.

 

Consistency

Dalam proses pembuatan sebuah
rangkaian tampilan visual, konsistensi adalah sebuah prinsip dasar yang tidak
boleh dilupakan. Hal ini bertujuan untuk tidak membingungkan viewer.

Visual
Planning Tools

Storyboard

Storyboarding adalah sebuah
metode perencanaan. Ketika mendesain sekelompok tampilan visual, misalnya
sebuah slide set atau video, maka diperlukan sebuah metode bagaimana cara
menyusun dan menyusun kembali keseluruhan sekuens dalam sebuah rangkaian
visual.

Types of Letters

Pemilihan jenis tulisan yang akan
digunakan dalam sebuah tampilan visual perlu disesuaikan dengan pesan apa yang
ingin disampaikan oleh desainer.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Heinich, Robert &
Molenda. 1996. Instructional Media and
Technologies for Learning
(7th Edition). New Jersey.

 

Some Design Principles and Rules, (Online), (http://www.goshen.edu/art/ed/Compose.htm#elements, diakses 14 maret
2008).

Wirakusumah, Teddy. 2006. Komunikasi Visual, (Online), (http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing/, diakses 26 February 2008)

 

 

 

The Roles of Visuals in Instruction

Salah satu peranan visual dalam pembelajaran adalah
sebagai sarana untuk menyediakan atau memberikan referensi yang konkret tentang
sebuah ide. Kata-kata tidak dapat mewakili atau menyuarakan benda karena visual
bersifat iconic. Oleh karena itu,
setiap kata memiliki kesamaan dengan benda yang dirujuk. Beberapa manfaat
visual dalam pembelajaran antara lain, visual dapat memotivasi pebelajar dengan
cara menarik perhatian mereka, mempertahankan perhatian serta mendapatkan
respon-respon emosional. Selain itu, visual juga dapat menyederhanakan
informasi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Dengan kata lain,
peranan visual dalam pembelajaran termasuk penting untuk mendukung informasi
tertulis dan informasi lisan (verbal information).

 

Visual Literacy

Visual Literacy adalah kemampuan pebelajar untuk
menganalisis sebuah pesan visual dalam pembelajaran. Visual Literacy dapat dikembangkan melalui dua macam pendekatan:

  • Input
    strategies. Membantu pebelajar untuk decode atau “membaca” dengan cara
    mempraktekkan kemampuan analisis visual.
  • Output
    strategies. Membantu pebelajar untuk encode, atau “menulis” secara visual untuk
    mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang lain.

Decoding: Interpretasi Visual

Dengan melihat
sebuah tampilan visual tidak berarti bahwa seorang pebelajar dapat belajar dari
tampilan tersebut. Pebelajar harus dibimbing untuk dapat memiliki pemikiran
yang jelas dan benar tentang tampilan visual tersebut. Aspek visual literacy yang pertama adalah
kemampuan untuk menginterpretasi dan menemukan makna dari stimulus yang ada di
lingkungan sekitar.

 

Developmental Effects

Banyak variable yang mempengaruhi seorang pebelajar dalam memaknai
sebuah tampilan visual. Anak-anak sampai pada usia 12 tahun cenderung memaknai
tampilan visual secara parsial. Disisi lain, anak yang lebih dewasa cenderung
mampu untuk menggambarkan kembali pesan yang ingin disampaikan dari sebuah
tampilan visual. Gambar-gambar abstrak atau rangkaian gambar diam (still pictures) kurang sesuai untuk
anak-anak (sampai usia 12 tahun).

 

Cultural Effects

Dalam mengajar, harus disadari bahwa
kemampuan pebelajar untuk menginterpretasi sebuah tampilan visual dapat
dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaannya. Misalnya, seorang pebelajar yang
berasal dari keluarga sederhana akan memiliki pemahaman yang berbeda mengenai
suatu tampilan visual dengan pebelajar yang berasal dari keluarga menengah
atas.

 

Visual Preferences

Dalam memilih tampilan visual, guru
sebaiknya memilih tampilan visual yang paling efektif daripada memilih tampilan
visual yang disukai. Misalnya, pembelajaran untuk anak-anak lebih cocok
menggunakan tampilan visual yang sederhana dan tidak menggunakan banyak
ilustrasi. Di sisi lain, tampilan visual pembelajaran untuk anak-anak yang
lebih dewasa lebih cocok menggunakan ilustrasi-ilustrasi yang lebih kompleks.

Kebanyakan pebelajar lebih menyukai
tampilan visual yang berwarna daripada tampilan visual hitam-putih. Sebenarnya
tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua hal tersebut kecuali ketika
ada hubungan antara topik yang sedang dipelajari dengan eksistensi warna.
Selain warna, pebelajar lebih suka tampilan visual dengan menggunakan foto
daripada line drawings (sekalipun
dalam beberapa situasi, line drawings
lebih sesuai digunakan dalam pembelajaran). Pada dasarnya, tampilan visual yang
sederhana akan lebih efektif bila digunakan dalam pembelajaran.

Perbedaan latar belakang
mempengaruhi kemampuan setiap pebelajar dalam
menginterpretasikan sebuah tampilan visual. Seorang guru dapat membantu mengembangkan
kemampuan visual pebelajar membiarkan mereka untuk “menggunakannya”, misalnya,
setiap pebelajar dapat belajar dengan melihat dan menganalisa tampilan visual.

Encoding: Menciptakan Visual

Aspek visual literacy yang kedua adalah kemampuan pebelajar untuk
menciptakan sebuah tampilan visual. Sama halnya dengan menulis yang dapat
menjadi stimuli untuk membaca, memproduksi media juga dapat menjadi cara yang
efektif untuk mengerti tentang media.

 

Goals of Visual Design

Setidaknya ada empat tujuan dasar desain visual yaitu:

  1. Ensure Legibility

Sebuah
tampilan visual tidak akan dapat berfungsi sampai tampilan itu dapat terbaca
oleh setiap orang yang melihatnya. Keterbacaan (legibility) berhubungan dengan
kualitas huruf pada tampilan dalam tingkat kemudahannya untuk dibaca. Tujuan
akhir dari sebuah tampilan desain visual yang baik adalah untuk menyingkirkan
sebanyak mungkin halangan yang mengganggu penyampaian sebuah pesan
pembelajaran.

 

  1. Reduce Effort

Seorang
desainer pasti merindukan agar pesan yang disampaikan melalui sebuah tampilan
dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu ia akan berusaha untuk
meminimalisir usaha-usaha yang mungkin dibutuhkan oleh setiap orang untuk
menangkap isi pesan tampilan visual tersebut.

 

  1. Increase Active Engagement

Sebuah
pesan tidak akan dapat bertahan sampai pesan itu mendapat perhatian. Hal inilah
yang menjadi dasar dari salah satu tujuan desain visual. Sebuah desain
sebaiknya dibuat semenarik mungkin untuk menarik perhatian viewer dan untuk membuat mereka memikirkan  tentang pesan yang sedang disampaikan.

 

  1. Focus Attention

Setelah
mendapatkan perhatian viewer, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengarahkan
perhatian mereka pada bagian terpenting dari tampilan pesan visual yang
telah  dibuat.

 

Processes of
Visual Design

Elements:

Langkah pertama
dalam mendesain sebuah tampilan visual adalah dengan mengumpulkan atau membuat
ilustrasi gambar dan desain teks yang akan digunakan.

Visual Elements

Tiga kategori simbol visual: (1) Realistic visuals menggambarkan objek
secara aktual atau sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebuah objek atau
peristiwa aktual akan selalu memiliki aspek yang tidak dapat diilustrasikan
sekalipun dalam gambar tiga dimensi.  (2)
Analogic visuals menggambarkan sebuah
konsep atau topik dengan menggunakan benda lain yang memiliki kemiripan.  (3) Organizational
visuals
meliputi: diagram, peta, skema, dll. Grafik seperti ini menunjukkan
hubungan antara poin-poin utama atau konsep dalam materi.

 

Verbal Elements

Huruf adalah bagian
terkecil dari sebuah kata. Sedangkan kata adalah bagian terkecil dari sebuah
gagasan. Sebuah gagasan yang baik dan telah tersusun lewat pemilihan kata yang
menarik bisa saja berakhir sia-sia karena kegagalan dalam memilih huruf.

 

Letter Style

  • Jenis huruf yang dipilih sebaiknya konsisten dan
    harmonis dengan elemen lain yang  ada
    dalam sebuah desain visual. Untuk keperluan desain pesan pembelajaran, jenis
    huruf yang sederhana lebih diutamakan. Misalnya huruf-huruf jenis Serif atau
    Sanserif.

 

Number of Lettering Style

  • Sebuah tampilan visual atau rangkaian tampilan visual
    sebaiknya tidak menggunakan lebih dari dua jenis huruf  dan kedua jenis huruf ini harus sesuai satu
    dengan yang lain.

 

 

 

Capitals

  • Untuk mendapatkan hasil tampilan yang legibel, maka
    gunakanlah huruf kecil. Huruf kapital lebih baik dipergunakan hanya pada
    saat-saat tertentu saja.

 

Color of Lettering

  • Warna huruf yang dipakai sebaiknya kontras dengan
    warna latar belakang (background). Hal ini perlu untuk memudahkan viewer dalam melihat hasil sebuah
    tayangan visual.

 

Size of Lettering

  • Bodytext antara 9 pt – 14 pt
  • Headline > 14 pt

 

Spacing Between Letters

  • Jarak antara huruf yang satu dengan yang lainnya
    sebaiknya tidak terlalu lebar. Perlu diperhatikan jenis huruf.

 

Spacing Between Lines

  • Jarak vertikal antara tiap baris sangat penting untuk
    legibilitas. Apabila jarak antar baris terlalu dekat, akan menyebabkan tulisan
    menjadi kabur dan tak terbaca; tetapi apabila jarak antar baris terlalu jauh,
    tulisan dalam tayangan akan terlihat kurang menyatu.

Elements That Add Appeal

Sebuah tampilan visual akan menjadi
berarti apabila  dapat menarik perhatian viewer.

 

Surprise

Hal mendasar yang
dapat menarik perhatian seseorang adalah karena adanya sesuatu yang tidak
terduga. Hal yang tidak terduga ini dapat berupa penggunaan metafora yang lain
dari biasanya, penggunaan permainan warna yang lebih berani, dll.

 

Texture

Kebanyakan tampilan
visual adalah dua dimensi. Namun, seorang desainer dapat membuat tampilan itu
menjadi tampilan tiga dimensi dengan cara memberikan tekstur atau material yang
bersifat aktual. Tekstur adalah karakter tiga dimensi objek atau material.

 

Interaction

Viewer dapat diminta untuk
memberikan respon terhadap sebuah tampilan visual dengan cara memanipulasi
materi yang ada dalam tayangan tersebut.

Pattern:

Alignment

  • Penataan baris rata kiri
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang baik
  • Dianjurkan untuk naskah yang panjang
  • Terkesan
    dinamis tetapi kurang rapi

 

  • Penataan baris rata kanan
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
  • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
  • Terkesan dinamis

 

  • Penataan baris rata kiri-kanan
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang cukup baik terutama
    jika jarak antar kata tetap terkontrol dengan baik
  • Terkesan rapi tetapi kurang dinamis
  • Dengan kontrol yang baik, dianjurkan untuk naskah
    panjang
  • Penataan baris terpusat di tengah
  • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk
  • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang
  • Terkesan statis

 

Shape

Cara selanjutnya untuk membuat  elemen visual dan elemen verbal adalah dengan
cara memilih dan meletakkannya dalam bentuk yang telah familiar. Bentuk-bentuk
seperti bentuk geometri adalah bentuk yang sesuai karena mudah ditebak oleh viewer. Prinsip lain yang dapat
digunakan sebagai panduan untuk penempatan elemen visual adalah hukum yang
ketiga yaitu elemen diletakkan pada jarak sepertiga dari bagian pojok kiri atas
sebuah tampilan.

 

Balance

Ukuran nada, berat
dan posisi unsur-unsur dalam sebuah rancangan tampilan dikendalikan dengan
sebuah keseimbangan. Unsur-unsur yang tertata seimbang terlihat aman dan nyaman
oleh mata. Cara menguji keseimbangan adalah dengan cara menguji hubungan bagian
kiri dan kanan. Pada dasarnya, terdapat dua bentuk keseimbangan yaitu formal
dan informal.

  • Keseimbangan formal

Rancangan yang seimbang formal memiliki unsur-unsur
berat, ukuran, bentuk yang sama pada sisi kanan dan sisi kiri dalam suatu garis
vertical imajiner yang digambarkan di pusat tampilan. Rancangan yang simetris
memberikan kesan stabilitas dan konservatif, tetapi pada suatu saat terlihat
tidak imajinatif.

 

Gambar kupu-kupu di samping simetris. Kedua sisi
memiliki kesamaa dan kekuatan yang seimbang secara visual. Selain itu gambar
kupu-kupu tercermin kembali.

 

 

 

  • Keseimbangan informal

Dalam keseimbangan informal, objek ditempatkan secara
acak dalam halaman tetapi secara keseluruhan tampak seimbang. Bentuk penyusunan
ini memerlukan pemikiran daripada keseimbangan formal bersimetris sederhana,
tetapi efeknya dapat imajinatif dan dinamis.

 

Gambar
kupu-kupu di atas asimteris. Kedua sisi memiliki  kekuatan visual yang hampir sama tetapi
gambar kupu-kupu tersebut tidak tercermin kembali.

 

Style

Style
ditentukan oleh perbedaan kondisi yang ada di lapangan. Tampilan rancangan
yang ditujukan untuk pembelajaran anak-anak akan memiliki tampilan rancangan
yang berbeda dengan desain pembelajaran yang ditujukan untuk pebelajar dewasa.

 

Color Scheme

Warna merupakan unsur visual yang
penting dan merupakan gejala penglihatan yang paling menarik. Warna  dapat berperan sebagai berikut:

  • Memberikan kesan realistik
  • Berfungsi sebagai pemisah antara elemen visual yang
    satu dengan yang lain
  • Membangkitkan perhatian
  • Memiliki bahasa psikologis untuk menguatkan mood pesan
  • Meningkatkan tampilan artistik

Berikut
ini adalah saran kombinasi warna untuk background
dan foreground (Color in
Instructional Communication):

Background ForegroundImages & Text Highlights
WhiteLight grey

Blue

Light blue

Light yellow

Dark blueBlue, green, black

Light yellow, white

Dark blue, dark green

Violet, brown

Red, orangeRed

Yellow, red

Red-orange

Red

 

Color Appeal

Warna-warna seperti biru, hijau dan
ungu termasuk warna-warna dingin; sedangkan merah dan oranye tergolong warna
yang hangat. Ketika memilih warna, seorang desainer perlu memperhatikan situasi
emosional apa yang ingin didapatkan melalui sebuah tampilan.

 

Arrangement:

Proximity

Prinsip proximity adalah pengelompokkan elemen.
Elemen yang saling berhubungan diletakkan saling berdekatan, sedangkan elemen
yang tidak berhubungan sedapat mungkin dijauhkan sehingga viewer dapat dengan
mudah menangkap makna sebuah tayangan.

 

Directionals

Viewer melihat sebuah tampilan dengan mengarahkan
perhatiannya ke tiap bagian tampilan secara bergantian. Seorang desainer dapat
mengatur perhatian viewer dengan cara memberikan arahan dalam tampilan dan
inilah yang disebut dengan directionals.  Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menarik perhatian viewer. Misalnya dengan menggunakan tanda panah, menggunakan
huruf bold, menggunakan bullets, dsb. Selain tiga contoh
sebelumnya, elemen warna juga dapat digunakan untuk menarik perhatian.
Warna-warna yang berani akan menarik perhatian dengan cepat apabila
dikombinasikan dengan warna-warna gelap.

 

Figure-Ground Contrast

Figure-ground
contrast
adalah upaya untuk membuat penonjolan sebuah unsur atau kelompok
unsur melalui berbagai cara: kontras nada, kontras arah, kontras ukuran,
kontras bentuk. Prinsip sederhana untuk figure-ground
contrast
adalah figur berwarna terang lebih cocok menggunakan background berwana gelap. Sebaliknya,
figure berwarna gelap lebih cocok menggunakan background berwarna terang.

 

Consistency

Dalam proses pembuatan sebuah
rangkaian tampilan visual, konsistensi adalah sebuah prinsip dasar yang tidak
boleh dilupakan. Hal ini bertujuan untuk tidak membingungkan viewer.

Visual
Planning Tools

Storyboard

Storyboarding adalah sebuah
metode perencanaan. Ketika mendesain sekelompok tampilan visual, misalnya
sebuah slide set atau video, maka diperlukan sebuah metode bagaimana cara
menyusun dan menyusun kembali keseluruhan sekuens dalam sebuah rangkaian
visual.

Types of Letters

Pemilihan jenis tulisan yang akan
digunakan dalam sebuah tampilan visual perlu disesuaikan dengan pesan apa yang
ingin disampaikan oleh desainer.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Heinich, Robert &
Molenda. 1996. Instructional Media and
Technologies for Learning
(7th Edition). New Jersey.

 

Some Design Principles and Rules, (Online), (http://www.goshen.edu/art/ed/Compose.htm#elements, diakses 14 maret
2008).

Wirakusumah, Teddy. 2006. Komunikasi Visual, (Online), (http://teddykw.wordpress.com/2008/02/25/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing/, diakses 26 February 2008)

 

 

 

Leave a Reply

*